Sungguh, merupakan hal yang sangat menyakitkan hati. Ketika cinta kita ditolak oleh seseorang yang sangat kita harapkan cintanya. Sepertinya Allah tidak adil. Langit terasa muram dan tidak bercahaya. Bukankah cinta kita betul-betul tulus dan murni. Untuk menjaga diri dari dosa, menjaga pandangan, menjaga hati bahkan demi menjaga kesucian agama-Nya..?

Apa yang salah pada diri kita..?? Tidak layakkah kita mendapatkan janji-Nya bahwa :

”Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.

Begitu mahalkah tiket untuk mendapatkan pertolongan-Nya? Begitu susahkah hanya untuk sebuah kata ”HELP” dari-Nya? Lantas dimanakah janji-Nya,

” Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu”.

Mungkin doamu yang belum tulus..??

Belum tulus bagaimana! Aku sudah tulus sekali dalam berdoa. Aku berdoa,

”Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenag hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.

But, why, Allah belum mengabulkan doaku?? Bukankah aku rajin kemesjid, sholat juga tidak pernah bolong, ngaji tiap hari, berbakti kepada ayah dan ibu, taat dan hormat kepada guru, setia kawan dan suka memaafkan. Apalagi yang kurang??

Ya, itulah masalahnya..

Itukan ikrar anak-anak Taman Pendidikan Al-Qur’an. So, siapa yang mau. Elu aja masih kayak anak kecil, belum dewasa. Siapa yang mau sama kamu. Iya nggak..??

Afwan ya Cuma becanda..! Hehe..

Ya, sebetulnya faktor yang paling utama mengapa keinginanmu belum dikabulkan, padahal usia sudah waktunya, tujuan sudah mulia. Bahkan mungkin kemampuan sudah ada. Hanya satu faktor penyebabnya. Apa ya??

Yaitu perbedaan persepsi antara kita dengan-Nya. Kita sering kali menganggap bahwasannya apa-apa yang sesuai dengan keinginan, itulah yang terbaik buat kita. Padahal tidak selamanya lo..??

Masih ingetkan Ayat-Nya: “ Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu”.

Dari ayat tersebut kita tahu bahwasannya ada hikmah di balik setiap kejadian apapun yang menimpa. Ada kebaikan dibalik sesuatu yang kita anggap buruk. Demikian juga sebaliknya. Kemungkinan ada keburukan dibalik sesuatu yang kita anggap baik.

Disaat hati rindu menikah kata Mas Udik Abdullah, Disaat diri telah berusaha mengkerenkan diri kata Salim Fillah. Disaat diri ini sudah minta izin untuk meminangmu, kata ustadz Pak Cah dan.. dan.. ternyata kegagalan yang kita dapatkan. Cinta kita tertolak?? Bagaimana kira-kira perasaan kita??

Padahal sudah sama-sama tahu, sudah sama-sama faham bahwa menikah adalah sunnah. Tapi, mengapa cinta yang kita ungkapkan dengan penuh ketulusan harus bertepuk sebelah tangan. Mengapa dia harus menolaknya??

Kegagalan cinta bukanlah kehancuran. Tertolaknya Pinangan bukanlah akhir dari segalanya. Maka ”Don’t Cry!” Ketika mencintai tak bisa menikahi.

(by: kk Ridwan NST) ^^


Iklan