Rina baru saja pulang dari kerjanya, tiba-tiba suasana di rumah terasa gaduh. Seperti orang yang marah besar. Ternyata yang marah adalah ayahnya rina. Ayah rina marah dengan kelakukan abang nya rina yang tak mau bertanggung dengan istrinya. Abang rina hanya mementingkan dirinya sendiri saja sampai2 dia lupa kalau dia itu sudah beristri dan harus menafkahi istrinya baik lahir maupun batin.

Setelah sampai di depan pintu, Rina nggak berani masuk. Habis kalau ayah marah rina selalu menangis. Rina emang paling nggak bisa dimarahi oleh ayahnya, ayah rina termasuk orang yang keras Kalau ayah sudah marah rina tak berani bersuara.

Akhirnya rina memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumahnya. Rina nggak berani sendirian di luar karena udara di luar pastilah dingin. Setelah rina masuk, Rina melihat ibu nya sedang menangis. Menangis karena kelakukan anak nya yang seperti itu. Menangis karena demi dilihatnya sang buah hati di marahi oleh sang ayah. Menangis demi dilihatnya sang ayah memarahi sang anak. Menangis… dan menangis…

Rina nggak tega melihat ibunya menangis. Di bujuk nya sang ibu untuk diam menangis, agar para tetangga tak mendengar apa yang telah keluarga kami lakukan. Walaupun tak mungkin tak ada telinga-telinga di dinding yang mungkin dapat mendengar pertengkaran keluarga kami.

Rina bosan dengan semuanya ini, bosan dengan keluarganya yang selalu saja bertengkar tak ada habis-habisnya. Bertengkar demi uang, bertengkar karena etika, bertengkar karena hal yang sepeleh pun bisa dijadikan besar. Itulah kehidupan keluarga Rina.

Rina ingin keluar dari keluarga itu, ingin pergi dan tak akan kembali. Tapi demi dilihatnya wajah sang ibu, akhirnya niat itu diurungkannya. Tak mungkin dia pergi dari sini.

Rina memiliki seorang kakak dan seorang abang serta memiliki dua orang adik. Tapi entah kenapa hanya Rina yang lain sendiri sikap nya. Dia seorang gadis remaja yang pendiem, tak banyak bicara kalau tak penting. Dia berbeda dengan saudaranya yang lain. Dia memakai jilbab dan itulah keinginan dia sewaktu dia sekolah dulu ingin istiqamah dalam berpakaian. Itu adalah bulat tekad nya.

Kakak rina yang perempuan dia adalah seorang anak perempuan yang bertingkah seperti seorang laki-laki. Tak pernah mau diatur kalau hidupnya masih nyaman2 aja. Kakak rina tomboy, tapi rina bangga dengan kakak nya. Bangga bukan karena ketomboy-annya tapi bangga dengan sikap kakak yang selalu sayang sama adik nya.

Rina juga memiliki seorang abang. Abang yang sering bersikap brutal, cuek, terkadang sering menipu orang lain. Sampai-sampai orang yang ditipunya datang ke rumah dan meminta ganti rugi. Dan rina juga memiliki dua orang adik yang rina sayang pada keduanya.

Malam itu sunyi, dingin. Kalau ayah sudah marah pasti rina yang terkena imbas nya. Rina nggak pernah tau itu, sejak kapan ayah melampiaskan nafsu amarah nya kepada Rina, tak hanya ayah terkadang ibu juga sering menyalahkan sikap rina yang selalu diam.

Rina bingung dengan sikap mereka. Bahkan mereka pun bingung dengan sikap Rina yang selalu murung diri, diam bahkan tak banyak bicara kalau tak begitu penting. Mungkin itu yang membuat sang ayah dan ibu marah dengan sikap rina yang seperti itu.

********

faktor tumbuh nya sang anak adalah dimulai dari lingkungan keluarga. Keluarga yang baik akan tercipta anak yang baik sikap nya. Terutama sang ayah yang berperan sebagai kepala keluarga, dimana sang istri dan sang anak butuh perlindungan dari dirinya. Tak seharus nya sang ayah mendidik anak nya dengan kata-kata kasar, bahkan kata-kata makian. Sikap anak kasar, adalah berawal dari keluarga juga. Dalam mendidik anak, tak harus kita menggunakan amarah. Bersikap lembut dan lunak kepada sang anak dapat menumbuhkan sikap anak yang lembut, jika anak diajarkan keras, diajarkan menghina, diajarkan mencaci, tak ayal kalau sikap anak akan terbentuk seperti itu. Bahkan bisa jadi murung dan menjadi pendiam. Seperti Sikap Rina yang pendiam dan murung. Terkadang kekerasan dalam rumah tangga selalu diawali dengan bentuk kekerasan dalam bentuk fisik, Bagaimana dengan batin? Bukankah itu juga adalah bentuk kekerasan dalam rumah tangga?

Akibat melihat dari berita di tivi serta mendengarkan curhatan dari teman-teman, serta dari mata saya yang melihat, Anak kecil saja yang masih berumur lima tahun sudah mengalami kekerasan fisik serta batin. Dipukul oleh nenek nya hanya karena pergi main-main tidak ingat pulang, ditambha lagi ditinggal pergi oleh sang ibu dan ayah untuk bekerja luar kota. Bagaimana sang anak dapat tumbuh dengan baik, jika perilaku sang nenek keras terhadapnya. Pasti kita akan mendengar kata-kata makian dari anak umur lima tahun tadi, jika ada yang bersikap kasar kepadanya. Dari kecil diajarkan kasar, sudah besar belajar menghina. Kita pasti tidak mau mendengar anak-anak kita suatu saat kelak menjadi orang yang kasar kepada orang yang lebih tua, bahkan menghina orang lain kan? Ubah cara didik kita kepada sang anak. Mereka adalah kapas putih yang masih bersih dan belum terkena noda apapun, Jangan sampai kapas putih itu berubah menjadi kapas yang hitam, kapas yang jelek warna nya. Mari kita ajarkan sopan santun dari usia dini mereka sekarang juga. Jangan sampai kata-kata yang keluar dari mulut mungil mereka adalah kata hinaan, kata-kata yang kotor.

(inspirasi yang aku dapat dari cara ku melihat, mengamati, dan memandang seseorang ketika berbicara dengan sang anak… ^^)


Iklan