Archive for Mei, 2010

KISAH PAK GENDU

Saya orang nya suka banget acara reality seperti yang ada di kick andy, ceritanya sebuah kisah nyata, yang dituangkan dalam sebuah bentuk reality. Dan ini adalah sebuah kisah dimana seorang laki2 yang menghabiskan hidupnya untuk menyembuhkan orang yang memiliki sakit jiwa, atw kita katakan adalah orang gila. Awalnya pak gendu merasa kasihan dengan orang gila yang ada di dekat rumahnya yang selalu saja di main2in oleh anak2 kecil, bahkan sampai di lempar batu oleh anak kecil yang mengejeknya.

Dan ini adalah kisah pak Gendu….. Selamat menikmati 🙂

*****

Seorang ibu datang ke rumah Pak Gendu membawa sebuah kantong kertas berwarna coklat. “Ini titipan dari suami saya,” ujar sang ibu. Ketika kantong kertas itu dibuka, Hartono terperanjat dan menatap sang ibu dengan pandangan tidak mengerti. “Suami saya titip untuk diberikan kepada Pak Gendu,” ibu setengah baya itu menegaskan.

Sekali lagi Hartono melongok ke dalam kantong kertas itu dan sekali lagi dia tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Di dalam kantong kertas itu terdapat gepokan uang kertas yang tersusun rapi. Setelah dikeluarkan dan dihitung, jumlah seluruhnya Rp 300 juta! “Jujur saja kami kaget. Tidak terbayang ada uang kontan sebanyak itu dimasukan ke dalam kantong kertas begitu saja,” ungkap Hartono. “Lebih terkejut lagi karena ibu tadi bilang semua uang itu untuk Pak Gendu.”

Kisah di atas diungkapkan Hartono, cucu Pak Gendu, ketika tampil sebagai narasumber dalam diskusi buku yang diselenggarakan Kick Andy Books Club di Toko Buku Kinokuniya Plasa Senayan, Sabtu pertengahan Januari lalu.

Menurut Hartono, ibu tersebut mengaku sang suami yang sedang sakit berat, sebelum ajal menjemput, ingin memberikan uang tabungannya kepada Pak Gendu. Ini semacam wasiat. Keinginan tersebut lahir pada saat dia menonton Kick Andy di Metro TV. Pada saat itu Kick Andy sedang mengangkat topik tentang orang-orang yang dalam keterbatasannya berbuat sesuatu untuk membantu orang lain. Salah satu “pahlawan” yang diceritakan dalam topik itu adalah Pak Gendu.

Pak Gendu adalah seorang “jawara” yang terpanggil untuk merawat dan menyembuhkan orang-orang gila yang berkeliaran di jalanan. Mulanya hati Pak Genduh merasa iba dan tergerak ketika melihat ada orang gila yang dikejar dan dilempari batu oleh anak-anak di kampungnya. Orang gila tersebut lalu dibawa ke rumahnya kemudian dirawat sehingga sembuh. Sejak itu dia dan keluarganya rajin mencari orang-orang gila yang berkeliaran di jalan-jalan untuk dibawa pulang, dirawat, dan disembuhkan.

Pak Gendu kini sudah berumur 80 tahun. Fisiknya sudah lemah. Sakit-sakitan dan mengandalkan kursi roda. Tetapi semangat Pak Gendu tidak pernah surut. Begitu pula kegiatan “menyelamatkan” orang-orang sakit jiwa dilanjutkan oleh anak dan cucunya. Sampai saat ini sudah ribuan orang gila yang ditampung dan dirawat di rumahnya di Bekasi, Jawa Barat.

Karena kegiatannya itu, tahun lalu Kick Andy menganugerahi Pak Gendu penghargaan “Kick Andy Heroes”. Acara pemberian penghargaan tersebut ditayangkan di Metro TV. Nah, tayangan tersebutlah yang kemudian menggerakan hati suami sang ibu yang waktu itu sedang menonton acara Kick Andy.

Saya sendiri baru mendengar kisah uang Rp 300 juta tersebut. Di depan para peserta bedah buku “7 Heroes” yang hadir Sabtu itu, secara terbuka dan tulus Hartono – atas nama Pak Gendu dan keluarganya – mengucapkan terima kasih kepada Kick Andy. “Gara-gara nonton Kick Andy, suami ibu itu tergerak untuk menyumbangkan uangnya ke yayasan yang diasuh Pak Gendu,” tuturnya.

Saya tidak dapat mengucapkan kata-kata. Saya terharu. Saya tidak membayangkan sebuah topik yang saya angkat di Kick Andy dapat menggerakan hati seseorang. Saya juga tidak membayangkan jika seseorang yang pada saat itu merasa hendak pergi untuk selama-lamanya, tergerak memberikan tabungannya guna membantu orang lain yang hanya disaksikannya melalui layar televisi.

Dari kisah diatas, ada terselip sebuah pertanyaan yang ingin saya, kita, kamu pasti ajukan. Pertanyaan itu yaitu. Sudahkah kita, saya, kamu seperti Pak Gendu yang menolong sesamanya demi kebaikannya? Kapan terakhir kali saya, kita, kamu berbuat baik kepada saudaranya?

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari apa yang dialami oleh Pak Gendu dan Ibu tadi…

(cerita ini saya kutip dari markas nya kick Andy… ^^ dengan sedikit edit-an sana sini )

Iklan

My Children

Rina baru saja pulang dari kerjanya, tiba-tiba suasana di rumah terasa gaduh. Seperti orang yang marah besar. Ternyata yang marah adalah ayahnya rina. Ayah rina marah dengan kelakukan abang nya rina yang tak mau bertanggung dengan istrinya. Abang rina hanya mementingkan dirinya sendiri saja sampai2 dia lupa kalau dia itu sudah beristri dan harus menafkahi istrinya baik lahir maupun batin.

Setelah sampai di depan pintu, Rina nggak berani masuk. Habis kalau ayah marah rina selalu menangis. Rina emang paling nggak bisa dimarahi oleh ayahnya, ayah rina termasuk orang yang keras Kalau ayah sudah marah rina tak berani bersuara.

Akhirnya rina memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumahnya. Rina nggak berani sendirian di luar karena udara di luar pastilah dingin. Setelah rina masuk, Rina melihat ibu nya sedang menangis. Menangis karena kelakukan anak nya yang seperti itu. Menangis karena demi dilihatnya sang buah hati di marahi oleh sang ayah. Menangis demi dilihatnya sang ayah memarahi sang anak. Menangis… dan menangis…

Rina nggak tega melihat ibunya menangis. Di bujuk nya sang ibu untuk diam menangis, agar para tetangga tak mendengar apa yang telah keluarga kami lakukan. Walaupun tak mungkin tak ada telinga-telinga di dinding yang mungkin dapat mendengar pertengkaran keluarga kami.

Rina bosan dengan semuanya ini, bosan dengan keluarganya yang selalu saja bertengkar tak ada habis-habisnya. Bertengkar demi uang, bertengkar karena etika, bertengkar karena hal yang sepeleh pun bisa dijadikan besar. Itulah kehidupan keluarga Rina.

Rina ingin keluar dari keluarga itu, ingin pergi dan tak akan kembali. Tapi demi dilihatnya wajah sang ibu, akhirnya niat itu diurungkannya. Tak mungkin dia pergi dari sini.

Rina memiliki seorang kakak dan seorang abang serta memiliki dua orang adik. Tapi entah kenapa hanya Rina yang lain sendiri sikap nya. Dia seorang gadis remaja yang pendiem, tak banyak bicara kalau tak penting. Dia berbeda dengan saudaranya yang lain. Dia memakai jilbab dan itulah keinginan dia sewaktu dia sekolah dulu ingin istiqamah dalam berpakaian. Itu adalah bulat tekad nya.

Kakak rina yang perempuan dia adalah seorang anak perempuan yang bertingkah seperti seorang laki-laki. Tak pernah mau diatur kalau hidupnya masih nyaman2 aja. Kakak rina tomboy, tapi rina bangga dengan kakak nya. Bangga bukan karena ketomboy-annya tapi bangga dengan sikap kakak yang selalu sayang sama adik nya.

Rina juga memiliki seorang abang. Abang yang sering bersikap brutal, cuek, terkadang sering menipu orang lain. Sampai-sampai orang yang ditipunya datang ke rumah dan meminta ganti rugi. Dan rina juga memiliki dua orang adik yang rina sayang pada keduanya.

Malam itu sunyi, dingin. Kalau ayah sudah marah pasti rina yang terkena imbas nya. Rina nggak pernah tau itu, sejak kapan ayah melampiaskan nafsu amarah nya kepada Rina, tak hanya ayah terkadang ibu juga sering menyalahkan sikap rina yang selalu diam.

Rina bingung dengan sikap mereka. Bahkan mereka pun bingung dengan sikap Rina yang selalu murung diri, diam bahkan tak banyak bicara kalau tak begitu penting. Mungkin itu yang membuat sang ayah dan ibu marah dengan sikap rina yang seperti itu.

********

faktor tumbuh nya sang anak adalah dimulai dari lingkungan keluarga. Keluarga yang baik akan tercipta anak yang baik sikap nya. Terutama sang ayah yang berperan sebagai kepala keluarga, dimana sang istri dan sang anak butuh perlindungan dari dirinya. Tak seharus nya sang ayah mendidik anak nya dengan kata-kata kasar, bahkan kata-kata makian. Sikap anak kasar, adalah berawal dari keluarga juga. Dalam mendidik anak, tak harus kita menggunakan amarah. Bersikap lembut dan lunak kepada sang anak dapat menumbuhkan sikap anak yang lembut, jika anak diajarkan keras, diajarkan menghina, diajarkan mencaci, tak ayal kalau sikap anak akan terbentuk seperti itu. Bahkan bisa jadi murung dan menjadi pendiam. Seperti Sikap Rina yang pendiam dan murung. Terkadang kekerasan dalam rumah tangga selalu diawali dengan bentuk kekerasan dalam bentuk fisik, Bagaimana dengan batin? Bukankah itu juga adalah bentuk kekerasan dalam rumah tangga?

Akibat melihat dari berita di tivi serta mendengarkan curhatan dari teman-teman, serta dari mata saya yang melihat, Anak kecil saja yang masih berumur lima tahun sudah mengalami kekerasan fisik serta batin. Dipukul oleh nenek nya hanya karena pergi main-main tidak ingat pulang, ditambha lagi ditinggal pergi oleh sang ibu dan ayah untuk bekerja luar kota. Bagaimana sang anak dapat tumbuh dengan baik, jika perilaku sang nenek keras terhadapnya. Pasti kita akan mendengar kata-kata makian dari anak umur lima tahun tadi, jika ada yang bersikap kasar kepadanya. Dari kecil diajarkan kasar, sudah besar belajar menghina. Kita pasti tidak mau mendengar anak-anak kita suatu saat kelak menjadi orang yang kasar kepada orang yang lebih tua, bahkan menghina orang lain kan? Ubah cara didik kita kepada sang anak. Mereka adalah kapas putih yang masih bersih dan belum terkena noda apapun, Jangan sampai kapas putih itu berubah menjadi kapas yang hitam, kapas yang jelek warna nya. Mari kita ajarkan sopan santun dari usia dini mereka sekarang juga. Jangan sampai kata-kata yang keluar dari mulut mungil mereka adalah kata hinaan, kata-kata yang kotor.

(inspirasi yang aku dapat dari cara ku melihat, mengamati, dan memandang seseorang ketika berbicara dengan sang anak… ^^)


Wanita Hebat

Pernikahan ku dengan orang yang aku sayangi masihlah seumur jagung, sebuah pernikahan yang masih baru untuk aku jalani, tapi ini adalah hal yang paling menyakitkan ku …

Kejadian ini berawal sewaktu aku duduk di pelaminan bersama orang yang aku sayangi… Tiba2 dari sebuah Handphone nya tertulis sms dalam bentuk kata sayang, Aku terperanjat… Bagaimana bisa ada seseorang disana yang juga mencintai suamiku…

Lalu suamiku akhirnya menjelaskannya, kalau itu bukanlah dari siapa2 itu hanya teman yang iseng2 mengerjai dirinya… Dan aku percaya dengan kata-katanya.

Pernikahan belum genap setahun, pernikahan ku masih dalam sehari dua hari. Tapi gangguan dari perempuan itu selalu saja menghampiri kehidupan keluarga kami berdua. Tak bisa aku bayangkan entah bagaimana lagi perasaan hatiku ini.

Aku tak mau banyak bersuudzon dengannya, aku ingin menyeledikinya sendiri benarkah suamiku itu selingkuh atau tidak?

Setelah aku selediki ternyata suamiku selingkuh dengan seorang janda  beranak satu. Entah dimana akal pikiran suamiku sehingga dia berani selingkuh seperti itu, padahal pernikahan kami masih lah seumur jagung. Beruntung aku memiliki mertua yang sangat menyayangi aku. Mertua ku malah mendukung ku untuk mencari informasi tentang perempuan selingkuhan suamiku ini.

Dalam pikiran ku tak mungkin ada kata2 cerai, dalam hidup ku aku ingin menikah sekali seumur hidup sampai ajalku menjemputku…

Aku coba berbuat baik dengan suamiku aku melayaninya sebagaimana layaknya seorang istri melayani suaminya sendiri  walaupun aku tahu suamiku itu selingkuh. Semua itu tak pernah aku hiraukan.

Sampai pada akhirnya aku dengar dari tetangganya perempuan selingkuhan suamiku ittu kalau mereka akan menikah dalam waktu dekat. Bagaimana hati ini tidak akan hancur, Pernikahan ku saja dengan suamiku maish sebulan, bagaimana bisa dia akan menikah dengan perempuan lain?? Akal sehat ku tak dapat lagi bicara… Aku tak sanggup lagi menangis… Aku tak sanggup lagi berkata2..

Mertua ku menyarankan ku agar aku menjebaknya dan menemuinya agar mereka malu.. akhirnya aku bersama mertua ku mmemergoki suamiku bersama perempuan janda itu. Yang tak habis pikirnya dariku kenapa janda itu percaya dengan kata-kata suamiku kalau suamiku itu masih lajang? Padahal kuku suamiku itu berwarna layaknya seorang laki2 yang baru menikah maka inai yang ada ditangannya itu masih ada belum lah hilang…

Setelah aku pergoki suamiku dengan janda itu, aku ajak pulang suamiku. Dan langsung aku interogasi dia kenapa dia menyakiti hatiku dengan cara begini?

Suami ku berkata kalau dia melakukan ini semua demi kebahagiaan ku kelak. Tak dapat aku percaya, ternyata dia melakukan ini semua demi harta. Harta yang akan dia gunakan untuk membahagiakan aku bersama nya.

Memang semenjak pernikahan kami, suamiku menjadi seorang penganggur. Pekerjaan belum juga datang menghampirinya, aku membantunya dalam hal keuangan. Aku bekerja untuk membantu suamiku. Mumpung belum diberi anak, dan masih baru menikah. Tak apa-apa aku bekerja dahulu. Semua akan lakukan asal itu adalah halal. Tapi suamiku Astaghfirullah tak habis pikir kenapa harus jalan ini dia lakukan…

Beruntung Allah masih menjaga kami dari segala azab nya… dan sebelum pernikahan itu dilaksanakan aku sudah mengetahuinya. Dalam hati mengucap syukur kepada Allah… masih menjaga kami… aku percaya Allah tidak pernah tidur …

Dan sekarang ini aku berada di rumah mertuaku, sedangkan suamiku alhamdulillah mulai dapat pekerjaan. Tak apalah asalkan halal hati tentram dan nyaman, tidak terkejar2 dosa…

Tak akan pernah menyerah  pada nasib…

(cerita ini akudapatkan dari seseorang, semoga kita semua dapat mengambil hikmah dan iktibarnya… dan semoga menjadi inspirasi buat para wanita-wanita untuk selalu menjadi wanita yang kuat dan tidak lemah)

Belajar Matematika Kehidupan

Buku itu lembar demi lembar aku buka, sehingga mataku tertuju pada satu halaman di mana halaman buku itu menuliskan sebuah rumus matematika yang begitu rumit, sehingga memaksa keinginan aku untuk memulai mengutak-atik rumus demi rumus, dan angka demi angka. Tapi hanya sebagian saja yang dapat aku selesaikan, sisanya aku nyerah tak tahu lagi rumus apa yang akan aku pakai untuk mencari hasilnya.

Begitu sulitkah pelajaran matematika itu??

Matematika adalah sebuah ilmu yang membutuhkan penalaran dan logika, matematika banyak di gunakan dalam kehidupan kita sehari-hari, menghitung, perkalian, pembagian, dsb.

Begitu susahnya yaa kalau kita belajar matematika, rumit banget lihat rumusnya. Terkadang kalau kita salah menghitung, maka hasil yang akan kita peroleh akan berbeda. Karena matematika adalah sebuah ilmu pasti.

Begitu pun juga dengan kehidupan yang kita jalani sekarang ini. Rumit dengan kehidupan.

Saya ingin memberitahukan sedikit tentang sebuah kurva dalam matematika yaitu ada sumbu x dan ada sumbu y, dimana sumbu x itu kita tahu berada secara horizontal.

Horizontal disini saya ingin menjelaskan Hubungan kita terhadap manusia, artinya kita ini adalah seorang makhluk sosial, yang butuh bantuan dari orang lain juga. Kata lainnya kita ini adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi dengan makhluk yang lainnya, baik itu manusia, tumbuhan dan hewan.

Tak jarang manusia juga pernah memiliki hubungan yang tidak baik dengan manusia yang lainnya. Sering menyakiti perasaan, mengganggu, melecehkan, mencaci, memaki, semua hal yang menyakiti perasaan makhluk lainnya.

sedangkan sumbu Y disini adalah sumbu vertikal dari sebuah kurva tersebut. Dimana peran sumbu Y ini adalah sebagai Hubungan Makhluk dengan Yang menciptakan yaitu Allah SWT.

Terkadang hubungan kita dengan sang pencipta juga tidak selalu baik, selalu melalaikan kewajibannya, terkadang menduakannya, bahkan apa yang dilarangnya sering kita langgar.

Hidup itu seperti sebuah bentuk fungsi dimana x + y = 100. Dimana x dan y adalah sebuah kehidupan dan hasilnya maka harus 100.

Sulit mempelajari rumus matematika kehidupan ini. Tapi kalau yakin pada diri sendiri, maka kita pasti akan mudah untuk menjalaninya. Seperti sebuah kata-kata Mutiara “Bak deret bilangan prima , begitulah garis kehidupan manusia dari hari ke hari”. Kita pasti tidak mau hari ini sama dengan hari kemarin.

Kita pasti tidak mau hidup seperti angka satu ini kan “2, 3, 5, 7, 11, 13, 17, 19, … ” ———> ” Yang angkanya tidak beraturan, yang artinya sebuah perjalanan hidup yang tidak beraturan.

jadi.. hidup harus dapat dijalani dengan cara mengukur dan memperhitungkan agar hidup kita lebih nyaman.

Banting Handphone

Sinta punya handphone yang masih layak pakai, suatu hari handphone sinta rusak, kata adik “kak, handphonenya di banting aja, beli yang baru”

—————————————————————————–

fiksi mini ini aku ikut sertakan di acara kontes fiksi mini