Entah udah berapa bulan neh kota ku nggak pernah hujan… sekitar kurang lebih dua bulan kota medan ku tak hujan-hujan…

Sehingga timbul penyakit di rumahku, Sekeluarga kena semua. Sejenis penyakit kulit nggak tw apa namanya… Tapi bentuk nya bentol2 seperti di gigit serangga tapi ini bentolnya kecil2 seperti keringat buntet kt orang sana bilang… tapi bukan keringat buntet… kalau digaruk sakit tapi kalau nggak digaruk malah gatal…

Ternyata kejadian ini bukan keluarga kami saja yang terkena, tetangga oh tetangga kami pun juga terkena. Mungkin karena musim panas kali sehingga kulit yang sensitiv akan mengalami alergi.

soalnya ada juga sih yang nggak kena seperti yang kami alami. Adikku paling kecil, terkena penyakit biduran. Yang nggak boleh kena air, angin, atau apa yang dingin2. Karena kalau kena yang dingin2 akan semakin bertambah gatal2 nya. Aku juga pernah dulu kena penyakit seperti itu tapi dulu waktu masih kecil. Sekarang udah nggak lagi Alhamdulillah.

Seandainya panas itu diganti dengan hujan. Jadi teringat akan suatu kisah di zaman rasulullah.

” Ada suatu desa, desa ini terkena dilanda kemarau yang panjang. Panas tidak pernah turun hujan sampai berbulan-bulan. Sehingga desa ini mengalami gagal panen. Dan sawah-sawah kering akibat tidak terairi.

Lalu ada seorang ulama yang mengumpulkan masyarakat desa ini untuk berkumpul di lapangan yang tujuannya adalah untuk dilaksanakan shalat istisqa yaitu meminta hujan kepada Allah SWT.

Setelah mereka melakukan shalat istisqa dan memohon kepada Allah SWT. Akhirnya mereka pulang ke rumahnya masing-masing. Sambil menunggu datang nya hujan. Namun, Lambbat laun hujan pun tak kunjung juga datang. Sampai dilakukan sebanyak 3 kali. Tapi hujan tak jua datang.

Akhirnya pada suatu hari, datanglah seorang budak. Budak ini mengambil air wudhu dan melaksanakan shalah sunat sebanyak 2 rakaat. Lalu berdoa : “Tuhanku, betapa banyak hamba-hamba-Mu yang berkali-kali datang kepada-Mu memohon sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi sedikitpun kekuasaan-Mu. Apakah ini karena apa yang ada pada-Mu sudah habis? Ataukah perbendaharaan kekuasaan-Mu telah hilang? Tuhanku, aku bersumpah atas nama-Mu dengan kecintaan-Mu kepadaku agar Engkau berkenan memberi kami hujan secepatnya.”

Maka setelah si budak berhenti berdoa, maka turunlah hujan.

Malik dan Tsabit hanya bisa tercengang melihat orang hitam itu. Mereka berdua menunggu hingga orang itu selesai dari munajatnya. Begitu terlihat orang itu selesai, Malik menghampirinya dan berkata, “Wahai orang hitam tidakkah kamu malu terhadap kata-katamu dalam doa tadi?” Orang tadibertanya, “Kata-kata yang mana?” “Kata-kata: dengan kecintaan-Mu kepadaku,” kata Malik. “Apa yang membuatmu yakin bahwa Allah mencintaimu?” sambung Malik. Orang itu menjawab, “Menyingkirlah dari urusan yang tidak kamu ketahui, wahai orang yang sibuk dengan dirinya sendiri! Dimanakah posisiku ketika aku dapat mengkhususkan diri kami untuk beribadah hanya kepada-Nya dan ma’rifat kepada-Nya. Mungkinkah aku dapat memulai hal itu jika tanpa cinta-Nya kepadaku sesuai dengan kadar yang dikehendaki dan cintaku kepada-Nya sesuai dengan kadar kecintaanku.”

Setelah berkata itu, dia pergi begitu saja dengan cepatnya. Malik memohon, “Sebentar, semoga Allah merahmatimu. Aku perlu sesuatu.” Orang itu menjawab, “Aku adalah seorang budak yang mempunyai kewajiban untuk mentaati perintah tuanku.”

Sang budak tidak tahu kalau doanya tadi malam di dengar oleh seseorang. dan seseorang itu adalah Malik . Maka Malik pun mencari alamat si budak tadi untuk mengucapkan terima kasih.

Akhirnya dia menemukan sebuah rumah yang sangat mewah dia adalah seorang yang kaya raya yang menjual budak2. Si malik ingin mencari budak yang berdoa tadi malam. Akhirnya malik menemukannya, budak itu lagi tidur siang. Kata pemilik rumah budak itu adalah pemalas. Lalu malik membeli budak si pemalas itu.

Malik menggandeng tangan budak itu untuk diajak ke rumahnya. Sambil berjalan, budak itu bertanya, “Tuanku, mengapa engkau membeliku padahal aku tidak cocok untuk membantu?”

Malik berkata, “Saudaraku tercinta, kami membelimu agar kami bisa membantumu.” “Kok bisa begitu?” tanya budak itu keheranan. “Bukankah kamu yang semalam berdoa di masjid itu? Tanya Malik. “Jadi kalian sudah tahu saya?” Budak itu kembali bertanya. “Ya akulah yang memprotes doamu semalam,” kata Malik.

Lalu budak itu akhirnya minta diantarkan ke mesjid oleh malik. Setelah sampai di mesjid, lalu budak itu membersihkan dirinya untuk berdoa seperti yang dilakukannya tadi malam. Si budak taid lalu berdoa: “Tuhanku, rahasia antara aku dan Engkau telah Engkau buka di hadapan makhluk-makhluk-Mu. Engkau telah membeberkan semuanya. Maka bagaimana aku nyaman hidup di dunia ini sekarang. Karena kini telah ada yang ketiga yang menghalangi antara aku dan diri-Mu. Aku bersumpah, agar Engkau mencabut nyawaku sekarang juga.”

setelah budak itu berdoa maka budak itu bersujud. Malik menunggu sang budak untuk bangun, setelah dipikir malik lama bangunnya akhirnya malik memberanikan diri untuk membangunkannya. Ternyata budak itu telah meninggal dunia dan tidak bernyawa lagi.”

Subhanallah sebuah bentuk pembelajaran.

Kalau udah panas gini jadi teringat cerita tentang budak tadi… Semoga kita dapat mengambil iktibar didalam nya…

(duuh…panas…panas… euy kotaku kota medan.. 🙂 )

Iklan